Ketika Negeri ini menjadi Buta, Tuli, dan Bisu. 

​Apa jadinya jika Indonesia tidak ada sosok seperti Habib Rizieq(semoga Allah Azza Wajalla meneguhkan hati dan langkah perjuangannya) ? Mungkin sekarang sudah seperti Singapura..  Sejarah menorehkan politik pencitraan berhasil menyingkirkan nuansa islam yg kental disana. Seharusnya negeri ini belajar. Belajar untuk melawan lupa. Belajar untuk membuka mata, belajar merasa perih derita sesama. Jika pancasila sebagai ideologi bangsa yg dibentuk tanpa kompromi para kiyai mungkin berbeda bunyinya kelas kelas di sekolah dasar sepanjang nusantara. Dunia ini kotor. Dunia ini menipu. Dunia ini ujian. Apapun kemasannya..  Propaganda, idealisme, fanatisme, doktrin jika itu tidak bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah semua tidak ada harganya. Nonsense. Kenapa dewi hukum ditutup matanya? Kenapa juga bawa timbangan? Supaya dia bersikap adil dalam menimbang yg mana yg baik dan buruk.  Tapi skrg kayanya sudah pakai kacamata 3D sambil bawa smartphone, sementara Al-Qur’an sedang terpajang cantik di lemari kaca sebagai pajangan. Pengajian disangkakan makar dan rencana pengeboman, malam jumat yg barakah di tanamkan stigma horror dan penamaan hari seperti nama monyet teman setia si buta dari goa hantu menjadi pelengkap mencekamnya cara berpikir makhluk Indonesia.  Manusia lupa bahwa dunia itu sementara. Makhluk Indonesia lupa bahwa mereka adalah muslim terbanyak di dunia. 

Mengutip dari pesan singkat kemarin… 

Ditengah perpecahan umat Islam dewasa ini, nasihat guru Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan, Jawa Timur :_*

*Kiai Ahmad Dairobi tiba-tiba menyentak umat Islam Indonesia.*
Dalam pekan ini, ‘Nasihat Ukhuwah’ *Kiai Ahmad Dairobi* populer secara viral di media sosial. Berikut nasihatnya :
“Diam-diam ternyata saya menyukai semangat FPI dalam memberantas kemunkaran. Saya tahu, kadangkala ada yang salah dalam aksi mereka. Namun, kesalahan mereka tidaklah seberapa dibanding kesalahanku yang takut dan tak peduli dengan kemunkaran yang merajalela.
Diam-diam ternyata saya menyukai semangat dan ketulusan Jamaah Tabligh dalam meramaikan shalat berjemaah di masjid. Saya tahu, kadangkala ada yang salah dalam tindakan sebagian mereka. Namun, kesalahan mereka tidaklah seberapa dibanding kesalahanku yang tidak melakukan apa- apa saat tetanggaku banyak yang tidak shalat.
Diam-diam ternyata saya menyukai semangat Hizbut Tahrir dalam membangun khilafah. Saya tahu, ada yang salah dalam sebagian konsep khilafah mereka. Namun, kesalahakanku yang tak mau berbuat apa-apa untuk penegakan syariat Islam, jauh lebih besar daripada kesalahan mereka.
Diam-diam ternyata saya menyukai cara berpolitik orang-orang PKS. Saya tahu, mereka banyak dihuni oleh tokoh-tokoh di luar Nahdlatul Ulama; dan yang namanya partai politik pasti cukup banyak kesalahan oknum mereka. Namun, kesalahan mereka tidaklah seberapa dibanding kesalahanku memilih partai yang cenderung sekuler dan anti penerapan syariat Islam.
Bahkan, diam-diam ternyata saya juga suka dengan keberanian Al-Qaidah dalam melawan kezaliman politik Amerika dan Israel. Aku tahu, mereka melakukan beberapa kesalahan, tapi kesalahanku yang tidak peduli dengan nasib umat Islam jauh lebih besar daripada kesalahan mereka.
Dan, dengan terang-terangan saya menyatakan sangat mengagumi *Nahdlatul Ulama.*
Yakni, *NU* yang sesuai dengan pandangan *Hadratussyekh Kyai Hasyim Asy’ari.*
*BUKAN NU* yang menjadi kendaraan politik.

*BUKAN NU* yang dipenuhi kepentingan pragmatis.

*BUKAN NU* yang menjadi pembela Syiah dan Ahmadiyah.

*BUKAN NU* yang melindungi liberalisme. _dan_

*BUKAN NU* yang menjadikan Rahmatan Lil Alamin sebagai justifikasi untuk ketidakpeduliannya terhadap perjuangan penegakan syariat Islam.
“Niat saya, agar antar gerakan Islam saling menjaga ukhuwah. Jangan sampai ashobiyyah dan fanatik buta pada organisasi masing-masing menutup pintu kebaikan kelompok lain.” [] 🇮🇩🇮🇩

 *Pada suatu ketika, Rasulullah bertanya kepada para sahabat,*
*Siapakah yg paling luar biasa imannya*
Para sahabat menjawab,: “Malaikat, ya Rasulullah.”
*Balas Rasulullah,* “Sudah tentulah malaikat luar biasa

imannya, kerana mereka sentiasa di sisi Allah.”
Seketika terdiam para sahabat, menjawab lagi, “Para nabi, ya Rasulullah.”
*Rasulullah berkata*, “Para nabi sudah tentu hebat imannya, karena mereka menerima wahyu dari Allah.”
Para sahabat mencoba lagi, “Kalau begitu kamilah yang

paling beriman.”

*Jawab Rasulullah,* “Aku berada di tengah tengah kalian, sudah tentulah kalian orang yang paling beriman.”
Lalu, salah seorang sahabat berkata, “Kalau begitu, Allah

dan Rasul Nya sajalah yang mengetahui.”
Maka dengan nada perlahan, *Rasulullah berkata*, “Mereka

adalah umat yang hidup selepas aku. Mereka membaca Al

Quran dan beriman dengan isinya. Orang yang beriman

denganku dan pernah bertemu denganku, adalah orang

yang bahagia. *Namun orang yang tujuh kali lebih bahagia adalah* : mereka yang tidak pernah bertemu aku tetapi beriman denganku.” 
Rasulullah diam seketika. Kemudian, beliau menyambung

dengan suara yang lirih, *“Sesungguhnya, aku rindukan mereka*
ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ َﻋﻠﻰ ﺳﻴﺪﻧﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَ ﻋَﻠَﻰ ﺁِﻝ ﺳﻴﺪﻧﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ
Sampaikan ke semua group contact wahai umat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassalam… Kita hidup di masa saat ini di beri kesempatan Allah menjadi barisan yg di cintai Nabi…  kita masih di beri kesempatan share akan membuat beribu , malah ber-juta-juta org utk  bersholawat ke atas Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

Ya Allah semoga masukan aku dlm golongan hambaMu yg selalu melaksanakan sunah nabiMu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s