MY HOME MY HEAVEN

timthumb-php

“Bayti jannati” , rumahku adalah surgaku, demikian teladan kita, Rasulullah SAW mengajarkan.

Saat kita semua melihat rumah kita, alangkah indahnya bila tidak hanya dipandang bagus atau tidak bangunannya, lengkap atau tidak isinya, tapi coba nikmati setiap sisinya dan katakan, “Ini adalah surgaku.” Dengan izin-Nya akan terbentang spanduk imani dalam pikiran dan kehidupan kita setiap melihat atau berada di dalam rumah, “Selamat datang di surga.”

Hadits tersebut luar biasa, dan sepatutnya mampu menenggelamkan keyakinan kita bahwa potensi surga amat dekat, berada di rumah kita. Rumah adalah pondasi awal raih surga. Rumah sebagai mihrab cinta menuju ridha-Nya. Tentu “rumahku surgaku” tidak hanya seperti kebanyakan orang dipahami berkaitan dengan suami istri, tapi lebih jauh untuk segenap penghuni. Bahkan surga dalam rumah itu sejatinya amat melekat pada sosok ayah dan ibu, orangtua kita.

orang-tua-dan-anak1

Tentu tidak salah banyak kaum Muslimin yang berupaya menempuh jalan surga dengan beragam langkah. Dengan zakat, sedekah, shalat, naik haji, dengan amalan sosial kemanusiaan, serta langkah-langkah menuju surga lainnya. Namun menjadi tidak tepat, dan patut disayangkan bila kita sibuk mengejar surga di luar rumah sementara yang berada di dalamnya dilupakan. Berlari jauh mencari pintu-pintu surga, tapi pintu yang ada di sekitarnya dan mudah diraih tidak dibuka.

3d rendering of a dark room with an open door

Betul, sejatinya orangtua, Ayah Ibu kita adalah surga sejati kita. Mereka surga terdekat kita. Di tangan mereka di antara kunci surga itu ada. Pada cinta mereka potensi kenikmatan surga diraih.

Abu Umamah ra meriwayatkan, pernah ada seorang laki-laki bertanya,

“Wahai Rasulullah, apakah hak kedua orang tua bagi anak-anaknya?” Rasulullah menjawab,

Keduanya adalah surga dan nerakamu.” (HR. Ibnu Majah)

Dalam hadits lain disebutkan, “Orang tuamu adalah jembatan menuju surga atau neraka.” (HR. ath-Thabrani).

Benar, ayah ibumu merupakan jembatan yang dapat menghantarkanmu menuju surga. Orangtua kita merupakan di antara penyebab utama kita masuk surga. Demikianlah bahwa orangtua merupakan sosok yang sangat Allah SWT muliakan di dalam al-Qur’an. Bahkan ada dua perintah yang Allah sandingkan dengan sosok orangtua,

12801-ya-allah-ampunilah-dosa-kami-dan-dosa-orang-tua-kami-sayangilah

Pertama, perintah ibadah kepada-Nya disandingkan dengan perintah berbuat baik kepada kedua orangtua,

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan berbuat baiklah kepada kedua orangtua.” (an-Nisa [4] : 36).

Maknanya kita tidak dikatakan sebagai ahli ibadah kepada-Nya selama kita belum mampu juara berbuat baik kepda orangtua.

Kedua, dikaitkan antara berterimakasih kepada kedua orangtua dengan syukur kepada Allah swt. Allah swt berfirman,

“Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu, karena hanya kepada-Ku-lah kembalimu.” (Luqman [31] : 14).

Dalam artian, kita tidak disebut pandai bersyukur kepada-Nya selama kita belum pandai berterimakasih kepada orangtua kita.

pasangan1

Karena itu, izinkan saya mengatakan, Silahkan kita beramal shaleh sebanyak-banyaknya, dari berbagai jalan menuju surga. Tapi jangan sampai surga yang terdekat, yang berada di rumahmu terlewatkan. Orangtuamu adalah surgamu. Orangtuamu langkah-langkah yang akan membawamu melalui jembatan ke arah surga. Jika ditanyakan, kenapa masuk surga itu lebih mudah diraih dari pintu orangtua? Setidaknya ada dua jawaban untuk itu, yaitu.

Pertama, karena pintu surga ini dekat, mudah, dan ada di sekitar kita. Orangtua ada di sisi kita, dekat, tidak jauh.

Kedua, karena lebih mudah kita perhitungkan. Coba Anda logikakan, kalau dengan amalan ke surga yang lain bisa jadi kita belum dapat memastikan. Karena diterima atau tidaknya amalan itu mutlak semua ditentukan oleh Allah SWT kelak. Shalat, puasa, zakat, haji atau amal yang lain, tidak bisa kita sahkan diterima oleh-Nya. Tapi melalui amal berbakti kepada orangtua dapat kita cerna dan kita pahami potensinya. Misalnya, dengan tidak murkanya orangtua, dengan hadir kata, “Ibu meridhaimu Nak,” dengan senyuman dan kecintaan mereka kepada kita, dengan tatapan dan sambutan sayang mereka, dapat dijadikan keyakinan salah satu tiket surga sudah kita pegang.

Saudaraku, mari berbuat, mari beramal, mari berlomba-lomba dalam kebaikan, mulai dari rumah, bersama orangtua kita, untuk sukses dan demi Surga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s