To be a Better Man

Siapa sih yang tidak ingin berubah menjadi lebih baik? semua orang juga ingin, termasuk juga diri saya pribadi yang masih punya banyak kekurangan ini.

Dan semua orang juga tahu, untuk berubah tidak lah mudah. butuh niat dan tekad yang kuat. Dan yang paling sulit adalah menjaga keistiqomahan.

Tetapi jika bukan kita sendiri yang merubah siapa lagi. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ” QS 13:11.

Untuk berubah menjadi lebih baik tidak cukup hanya sekedar “ingin”. tidak cukup hanya sekedar berandai-andai. tidak cukup hanya sekedar menulisnya di bio Instagram.
Apalagi tidak ada langkah yang menunjukan bahwa kita ingin berubah.

Berubah menjadi lebih baik boleh sedikit demi sedikit. tapi jangan setengah-setengah. yang enak diambil yang tidak menguntungkan diri sendiri malah diabaikan.

Jika ingin berubah mulailah bergaul dengan orang-orang yang baik. baik itu di dunia nyata maupun di dunia maya.

Yuk berubah menjadi lebih baik. bukan hanya sekedar menulisnya di bio.

Yuk kita saling mendo’akan semoga kita diberi kemudahan untuk menjadi lebih baik 🙂
—————————————————–

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal” QS. Al-Anfal 8 : 2)

Bagaimana membuat langit tertunduk baik kepada kita? Tentu, saat ketika ayat-ayat-Nya dibacakan, hati yang dipenuhi rasa cinta kepada-Nya akan senantiasa gemetar. Gemetar karena begitu lemahnya hamba, dan begitu Maha Besar, Rabb Semesta Alam.

Ketika seruan kepadanya datang, maka ia tak berpaling. Ia kuatkan tekad, ia yakinkan keimanan, dan ia sadar bahwa dunia ini sementara. Maka seruan iman segera diambil, seruan jihad segera dijalankan, dan seruan ketundukan kepada syariat islam tak akan pernah ditolak.

Perkaranya, benarkah hati kita ini beriman? Beriman kepada Rabb sepenuhnya atau jangan-jangan kita selama ini mengaku iman, tapi membiarkan maksiat terus saja menumpuk? Lantas, gemetar seperti apa hati kita itu terhadap ayat-ayat Al-Quran? Gemetar sambal? yang kemudian terus saja merasa sedih, tapi maksiat terus dijalankan.

Kita terkadang masih saja membatu, bahkan lebih batu dari batu. Ayat-ayat seruan hanya sepintas lewat. Peneman luka, pengobat rindu. Tapi itu tadi, tak pernah diusahakan, tak pernah didukung secara total untuk diterapkan. Lantas, memangkah kita pantas demikian? Atau sekali lagi, kita terlalu nikmat hidup dalam ranah syubhat, dalam area dosa, dalam kegemilangan harta yang sesungguhnya kelak di akhirat membawa petaka.

Maka, sahabat marilah kita gemetarkan jiwa kita. Gemetar yang membuat hati terus tunduk, patuh dan taat kepada Allah SWT.

=================================

image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s